Selasa, 27 Agustus 2019

Makalah : Gangguan Kecemasan


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Perilaku kecemasan perpisahan merupakan suatu tahapan perkembangan yang normal dialami oleh anak-anak. Pada tahapan ini anak cenderung tidak ingin berpisah dari figur lekatnya. Menurut American Psychological Association (APA) gangguan kecemasan perpisahan adalah gangguan internalisasi anak. Masalah psikologis yang sering ditemui dan dialami oleh banyak anak usia sekolah adalah kecemasan. Horney dalam Padan (2015) menyatakan bahwa kecemasan pada anak anak itu timbul karena ketergantungannya dengan orang dewasa yang membuat mereka bertahan.
Diagnostic And Statistical Manual of Mental Disorder V (DSM-V) menyatakan perilaku kecemasan perpisahan berubah menjadi sebuah gangguan ketika sudah tidak lagi sesuai dengan usia dan tugas perkembangan. Ciri diagnostik gangguan ini adalah kecemasan berlebihan yang terfokus bila pisah dengan figur lekatnya. Bila kita mengamati anak-anak usia sekolah, mereka tidak mau ditinggal orang tuanya saat diantar ke sekolah. Hal ini dianggap sesuatu yang tidak bermasalah bagi orang tua bahkan orang lain. Mereka beranggapan bahwa itu merupakan bagian dari pertumbuhan anak. Anak mengalami adaptasi dan menyesuaikan diri di lingkungan dimana mereka berada. 
Gangguan rasa cemas akan perpisahan dapat menganggu dan memperlambat perkembangan sosial anak karena ia tidak mengembangkan kemandirian atau belajar bergaul dengan teman-teman sebayanya. Anak yang mengalami kecemasan apabila ia ditinggalkan maka tidak dapat berfungsi dengan baik sebab tercekam oleh rasa takut terhadap apa yang terjadi dengan dirinya atau terhadap orang-orang yang berpisah dengannya.
Gangguan cemas perpisahan ditemukan 2 sampai 12% populasi umum dan merupakan gangguan paling banyak pada anak dan urutan ketiga gangguan pada anak secara umum. Gangguan ini terjadi seimbang antara laki laki dan perempuan. Keluhan dirasakan selama 4 minggu atau lebih pada anak usia kurang dari 18 tahun. Kecemasan perpisahan memiliki dampak negatif terhadap kemampuan emosional dan sosial anak. Akibatnya anak menghindari tempat-tempat tertentu, aktifitas dan pengalaman tertentu yang baik untuk tahapan berikutnya (Ehrenreich, Santucci dan Winer, 2008) dalam Shofia (2017). Kesedihan yang berlebihan menyebabkan anak akan menangis, mengadat, merana, apatis, atau mengundurkan diri secara sosial pada saat sebelum atau sesudah berlangsungnya perpisahan dengan tokoh yang penting atau akrab dengannya.
Anak-anak yang mampu berdaptasi akan lupa bahwa mereka tidak dekat dengan orang tuanya dan dapat bergabung dengan lingkungan sekitarnya. Namun lain halnya dengan anak-anak yang mengalami gangguan. Mereka merasa cemas dan menderita akibat perpisahan tersebut. Anak-anak seperti ini akan terus merenung dan menampilkan rasa ketakutan untuk diri mereka sendiri dan orang yang mereka cintai.
Penelitian yang dilakukan oleh Ampuni S dan Andayani B (2013) mogok sekolah pada beberapa kasus anak sekolah merupakan manifestasi dari gangguan cemas berpisah yaitu gangguan kecemasan berpisah dari figur lekat. Banyak faktornya seperti pengalaman traumatik, kecemasan bertemu dengan teman-temannya setelah ia membuat ulah, menarik diri (withdrawal) dari masalah, yang menunjukkan kurang berkembangnya tanggungjawab pribadi dan daya juang.
Menurut Gelfand dan Drew dalam Ampuni dan Handayani (2013) menyatakan gangguan kecemasan dapat berasosiasi dengan school fobia dan gangguan perilaku agresif berasosiasi dengan truancy secara bersamaan.
Hasil penelitian Shofia (2017) pengasuhan anak yang cenderung tidak konsisten dan berbeda antara ayah dan ibu mengakibatkan kecenderungan anak mengalami kecemasan berpisah dari figur lekatnya.  
Gangguan kecemasan perpisahan terjadi sebelum usia 18 tahun. Gangguan dapat menyebabkan penderitaan bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, akademik/ belajar atau fungsi penting lain. Peran orang tua atau orang yang dianggap penting sangat mempengaruhi perkembangan anak. Memberikan nasihat dan penjelasan yang tepat pada anak dapat membuat anak mampu mengatasi gangguan kecemasan itu sebaliknya bila kita mengabaikannya akan berdampak pada perkembangan anak pada masa yang akan datang.

1.2  Tujuan
1.2.1       Mampu mengetahui pengertian gangguan kecemasan perpisahan
1.2.2       Mampu mengetahui penyebab, gejala klinis penatalaksanaan dan prognosis gangguan kecemasan perpisahan


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1  Gangguan Cemas Perpisahan
Gangguan cemas perpisahan ditandai dengan rasa cemas berlebihan bila anak terpisah dari orang yang dekat dan sangat berarti baginya. Gangguan ini umumnya terjadi pada usia 4 tahun atau sebelum usia 18 tahun. Gangguan ini dapat menyebabkan kekhawatiran yang berlebihan akan kehilangan orang yang sangat bermakna bagi dirinya.
Gangguan kecemasan pada masa kanak-kanak meliputi gangguan rasa cemas akan perpisahan (separation anxiety disorder), gangguan untuk menghindar dan gangguan kecemasan yang berlebihan. Gangguan kecemasan perpisahan menimbulkan ketakutan berpusat pada apa yang mungkin terjadi dengan individu yang berpisah dengan anak itu. Gangguan kecemasan akan perpisahan dapat mengganggu dan memperlambat perkembangan sosial anak karena ia tidak menembangkan indepndensi. Apabila dia ditinggalkan maka anak tidak dapat berfungsi dengan baik karena tercekam rasa takut terhadap apa yang akan terjadi pada dirinya atau orang-orang yang berpisah dengannya. Gangguan menghindar dengan simtom utama enggan berhubungan dengan orang-orang yang tidak dikenal yang mengganggu fungsi sosial anak itu dengan kawan-kawan sebayanya. Sehingga anak cenderung menarik diri, malu, takut sulit berbicara. Gangguan kecemasan berlebihan merupakan kecemasan yang terus menerus dan berlangsung lama (lebih kurang 6 bulan). Kecemasan ini menyebabkan simtom-simton somatik yang dasar fisiknya tidak dapat ditemukan dan tidak mampu berpikir rileks.  
Gangguan kecemasan berpisah adalah bentuk kecemasan berlebihan yang dialami anak ketika berpisah dari orang-orang yang dekat dengannya (major attachment figure), misalnya ibu, atau ketika jauh dari rumah. Beberapa jenis gangguan kecemasan masa kanak-kanak mampu mempengaruhi hingga 10% dari anak usia sekolah.
Penolakan bersekolah merupakan masalah emosional yang serius sehingga dapat menimbulkan akibat jangka pendek dan jangka panjang. Penolakan bersekolah dapat ditemui mulai dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi. Sebesar 43% penolakan bersekolah berlatar belakang gangguan cemas. Keengganan atau penolakan untuk pergi ke sekolah termasuk ke dalam gangguan kecemasan berpisah. Gangguan school refusal (mogok sekolah), gejala yang muncul adalah rasa khawatir, cemas dan takut  yang berlebihan yang dialami anak ketika harus pergi ke sekolah, karena ketika ia pergi ke sekolah berarti berpisah dari ibu atau jauh dari rumah.
Orang tua yang mempunyai gangguan panik memiliki risiko tinggi untuk mempunyai anak dengan gangguan cemas perpisahan. Hal ini dapat bersumber dari patologis antara anak dan orang tua. Menurut Mahler, proses perpisahan individu dimulai usia 4 – 5 bulan dan sempurna usia 3 tahun. Pada cemas perpisahan fase tersebut tidak terselesaikan, orang tua mempunyai kebutuhan yang kuat untuk mempertahankan kasih sayang yang menghambat perkembangan normal dari sikap ketergantungan anak. Sehingga pada usia sekolah kondisi patologis ini tetap dipertahankan dan timbul penolakan bersekolah karena takut akan perpisahan.
Beberapa tahap kecemasan berpisah adalah normal dan dialami hampir setiap anak-anak, khususnya pada anak yang sangat kecil. Sebaliknya, gangguan kecemasan berpisah adalah kegelisahan berlebihan yang melebihi apa yang diharapkan untuk tingkat perkembangan anak. Kecemasan berpisah dipertimbangkan sebagai gangguan jika berlangsung setidaknya sebulan dan menyebabkan gangguan yang sangat berarti atau merusak fungsi. Durasi pada gangguan tersebut menggambarkan keparahannya. Gangguan kecemasan akan perpisahan (separation anxiety disorder) didiagnosis jika kecemasan akan perpisahan tersebut persisten dan berlebihan atau tidak sesuai dengan tingkat perkembangan anak.
Gangguan cemas perpisahan adalah gangguan kecemasan pada anak anak dan remaja yang dikelompokkan oleh DSM-IV. Ada tiga gejala yang berhubungan dengan kecemasan tentang perpisahan dari tokoh perlekatan utama. Ketakutan dalam bentuk menolak sekolah, ketakutan dan ketegangan akan perpisahan serta keluhan berulang berupa gejala fisik seperti sakit kepala, pusing bahkan diare.
Menurut Barlow & Beck (dalam Weems & Carrion, 2003) menjelaskan bahwa kecemasan pada anak umumnya terjadi karena peran proses belajar, pemikiran, dan aspek fisiologis dari gangguan kecemasan. Tidak semua anak mengalami gangguan kecemasan pemisahan. Namun bila anak lebih dari lima tahun dan masih memiliki gangguan kecemasan pemisahan, mungkin perlu mengkonsultasikannya kepada seorang psikolog atau konselor.
Menurut APA (2000), sekitar 4 % terjadi pada anak- anak dan 1 % remaja. Gangguan ini dapat berlangsung sampai masa dewasa, menyebabkan perhatian yang berlebihan pada keselamatan anak- anak dan pasangan serta kesulitan menoleransi perpisahan apa pun dari mereka.

2.2  Etiologi
Gangguan cemas perpisahan dapat terjadi pada usia 4 tahun atau jelang usia 18 tahun. Gangguan sering terjadi pada anak kecil dibandingkan remaja, kejadiannya seimbang antara anak laki laki dan perempuan. Gangguan sering ditemukan pada usia 7 sampai 8 tahun. Banyak faktor yang berperan yang dapat menyebabkan gangguan cemas perpisahan ini diantaranya faktor psikososial, faktor belajar, faktor genetik, faktor predisposisi, dan faktor presipitasi. 

Faktor Psikososial
Psikososial adalah faktor yang menggambarkan hbungan antara kondisi sosial seseorang dengan kesehatan mental atau emosionalnya. Menurut Erikson, elemen penting dari teori tingkatan psikososial adalah perkembangan persamaan ego yaitu perasaan sadar yang dikembangkan melalui interaksi sosial. Anak kecil tergantung pada tokoh ibu, rentan terhadap kecemasan yang berhubungan dengan perpisahan. Gangguan cemas perpisahan terjadi jika anak memiliki ketakutan yang tidak sesuai akan kehilangan ibu.

Faktor Belajar
Kecemasan fobik dapat dikomunikasikan dari orang tua langsung kepada anak anak melalui modelling. Jika orang tua penuh ketakutan,, anak kemungkinan memiliki adaptasi fobik terhadap situasi baru, terutama lingkungan sekolah.

Faktor genetik
Cemas perpisahan yang dialami seseorang kemungkinan ada pengaruh genetik. Orang tua dengan gangguan panik mempunyai risiko tinggi untuk memiliki anak dengan gangguan cemas perpisahan.

Faktor Predisposisi
Gangguan dapat terjadi karena anak medapatkan perhatian lebih dan kenyaman dari orang tua. Sehingga saat anak harus menunjukkan eksistensi dirinya di lingkungan, ia menjadi merasa tidak nyaman. Apalagi harus ditinggal oleh orang tua. Peran pola asuh orangtua memegang kontribusi yang luar biasa besar. Biasanya, anak dengan gangguan kecemasan berpisah dibesarkan oleh orangtua dengan gangguan kecemasan yang sama. Orangtua yang terlalu melindungi anaknya, overprotektif, atau keluarga dengan budaya yang terlalu akrab biasanya rentan pada pengasuhan anak yang dapat menimbulkan gangguan kecemasan berpisah pada anak-anak, contoh pada anak tunggal, anak bungsu, anak laki-laki atau perempuan satu satunya di keluarga, anak pertama meninggal sehingga anak ke dua jadi harapan keluarga, serta anak yang susah diperoleh (misal bayi tabung).

Faktor Presipitasi
Gangguan kecemasan disebabkan hal baru yang sebelumnya anak tidak pernah alami. Akibatnya anak akan mengalami gangguan yang hebat ketika dipisahkan dari orang tua atau orang yang mereka sayangi.

2.3  Manifestasi Klinis
Gangguan cemas perpisahan akan mengalami gangguan yang sangat hebat ketika dia dipisahkan dari orang yang mereka sayangi. Bepergian sendiri membuat mereka tidak nyaman, dan mereka bisa menolak untuk datang ke sekolah atau kemah atau untuk mengunjungi rumah teman. Beberapa anak tidak bisa tinggal sendirian di dalam sebuah ruangan, melekat pada orang tua atau membuntuti orangtua di sekitar rumah.
Tanda-tanda anak yang mengalami gangguan kecemasan adalah secara fisik berkeringat, mempercepat denyut jantung atau palpitasi, hiper-ventilasi, dan sejumlah gejala lain. Bisa berakibat pula pada prestasi belajarnya atau interaksi dengan lingkungan sekitarnya. Anak yang susah berpisah dengan pengasuh, anak takut atau enggan ke sekolah, atau anak yang tidak mau keluar rumah. Anak- anak akan cenderung mengikuti kemana orang tua pergi. Ciri lainnya adalah gangguan mimpi buruk, sakit perut, mual ketika mengantisipasi perpisahan. Ciri penting gangguan cemas perpisahan adalah kecemasan yang ekstrim sehingga anak dapat panik. Ketakutan, preokupasi dan ruminasi morbid adalah karateristik gangguan cemas perpisahan. Ketakutan tidak akan bertemu orang tuanya kembali misalnya mengalami kecelakaan, kehilangan atau diculik.
Kesulitan tidur sering ditemukan dan mungkin mengharuskan seseorang menemani anak anak sampai tertidur. Anak anak sering pergi ke tempat tidur orang tua atau bahkan tidur di pintu orang tua. Ketakutan dan mimpi buruk adalah ekspresi lain dari kecemasan.

2.4  Kriteria Diagnostik
Kecemasan yang berlebihan dan tidak sesuai menurut usia perkembangan karena berpisah dengan orang terdekat. Hal ini dapat berlangsung dalam waktu 4 minggu, onsetnya adalah 18 tahun. Adapun gejala-gejala gangguan ditandai sekurang kurangnya tiga dari empat gejala berikut :
·         Penderitaan (distress) yang berulang dalam menghadapi perpisahan dengan figur perlekatan utama (orang yang bermakna baginya)
·         Ketakutan yang menetap dan berlebihan dalam menghadapi kehilangan atau membayangkan kemungkinan bahaya yang dialami oleh figur perlekatan utama (kecelakaan, kematian).
·         Kekhawatiran yang menetap dan berlebihan terhadap kejadian yang tidak diharapkan, misalnya hilang atau di culik
·         Enggan pergi sekolah atau tempat lain karena takut berpisah dengan figur perlekatan utama
·         Enggan menetap di rumah sendirian, tidak ditemani oleh figur perlekatan
·         Enggan atau menolak tidur sendiri, apalagi jauh dari figur perlekatan utama
·         Sering mimpi buruk dengan tema perpisahan
·         Keluhan fisik seperti pusing, sakit kepala, sakit perut, mual

Diagnosis banding gangguan ini pada beberapa tingkat merupakan fenomena normal yang terjadi pada anak. Anak yang menolak sekolah perlu dilakukan evaluasi apakah takut perpisahan disebabkan kekhawatiran terhadap penampilan atau ketakukan akan dipermalukan di depan guru dan teman-teman.




2.5  Penatalaksanaan

1)      Non Farmakoterapi, penanganan awal melalui pendekatan berbagai bentuk terapi, misal psikoterapi individu dan terapi keluarga. Keluarga membantu orang tua mengerti kebutuhan cinta yang konsisten dan suportif dan mempersiapkan tiap perubahan penting dalam kehidupan.
2)      Farmakoterapi, merupakan terapi tambahan untuk mengontrol gejala. Adapun obat yang diberikan adalah golongan Selective Serotonim Reuptake Inhibitor (SSRI) seperti fluoxetine, setraline, paroxine, dan citalopram. Untuk mengatasi tidur pada anak diberikan diphenhidramin.
Bila ini masih terus berlanjut dan sudah ada penolakan bersekolah maka sebaiknya di rujuk ke psikiater. Penolakan sekolah berhubungan dengan gangguan cemas perpisahan dan dapat dipandang sebagai kegawatdaruratan psikiatrik. Terapi menyeluruh hendaknyamelibatkan anak, orang tua, teman sebaya dan sekolah. Anak di dorong untuk masuk sekolah. Bila anak menghadapi kendala maka disusun suatu program secara progresif meningkatkan waktunya di sekolah.
Penelitian yang dilakukan oleh Padan (2013) dan kawan kawan, art terapi merupakan salah satu bentuk terapi yang dapat digunakan pada gangguan cemas perpisahan anak sekolah di panti asuhan. Namun hasilnya art teraphy kurang mampu menurunkan kecemasan secara umum, tidak ada perbedaan yang signifikan antara total skor kecemasan sebelum diberi art terapi dan sesudah di beri art terapi. Sehingga di sarankan art terapi sebagai treatmen untuk kecemasan lebih spesifik menyentuh salah satu sumber kecemasan tertentu yang diukur dalam beberapa subskala kecemasan. 
Bermain adalah media alami untuk ekspresikan diri anak. Permainan yang dapat dilakukan bersama anak menjadi sebuah terapi. Dengan terapi bermain anak memiliki kesempatan untuk memainkan perasaan dan permasalahannya, anak merasa menjadi orang penting, mengatur situasi dan dirinya, tidak ada kritikan dan aturan dan dapat diterima secara penuh. Bentuk pendekatan yang dapat dilakukan dengan terapi bermain antara lain :
1.      Membangun rasa aman, anak yang mengalami kecemasan disebabkan bereaksi dengan dunia baru hal yang dibutuhkan adalah rasa aman. Sehingga mencptakan rasa aman pada diri anak dapat mengurangi kecemasan. Misal menungguinya di sekolah beberapa saat.
2.      Mengubah pemikiran yang salah. Anak yang mengalami gangguan cemas perpisahan mempunyai pemikiran yang salah tentang dunia barunya. Pemikiran anak perlu diubah dengan cara memperlihatkan fakta yang sebaliknya.
3.      Mengajak anak bermain bersama. Mengajak anak bermain bersama dengan menjadikannya aktor utama dan banyak memainkan peran. Anak dapat mengekspresikan diri sehingga dapat digunakan untuk menggali penyebab kecemsan pada anak.
Efektifitas terapi dapat terlaksana bila dilakukan dan di dukung oleh lingkungan sekolah seperti teman teman sekelas, agar perasaan positif terhadap sekolah dapat terbentuk. Beberapa cara yang dapat dilakukan orang tua untuk mengurangi rasa cemas perpisahan adalah :
a.       Membuat perpisahan singkat dan manis
b.      Menciptakan ritual perpisahan, dengan memeluk 3 kali dan mencium 5 kali
c.       Berikan pesan yang jelas bahwa anak harus tahu meskipun menangis, berteriak, hentakkan kaki tetapi dia harus tetap masuk sekolah.
d.      Jangan membawa anak pulang jika anak menangis saat perpisahan
e.       Mengundang anak lain ke rumah sehingga terjalin persahabatan
f.       Jangan tunjukkan sikap sedih saat berpisah. Hal ini membantu anak merasa nyaman dan menikmati wakyu di sekolah
g.      Mengantar dan menjemput anak dengan tokoh yang berbeda

2.6  Prognosis
Prognosis gangguan cemas perpisahan adalah meramalkan kemungkinan atau akhir dari suatu gangguan cemas perpisahan, baik dengan pengobatan atau tanpa pengobatan. Prognosis gangguan cemas perpisahan bervariasi tergantung kepada onset usia, lama gejala dan perkembangan gangguan kecemasan dan defresif komorbid. Biasanya anak anak lebih singkat mengalami gangguan dan mampu bertahan hadir disekolah dibanding remaja. Anak yang tetap sekolah dan mempunyai aktifitas sosial biasanya mempunyai prognosis lebih baik.
Ada penelitian yang menyatakan bahwa beberapa anak dengan fobia sekolah yang parah terus menolak sekolah selama bertahun tahun. Ada asumsi bahwa anak dengan gangguan kecemasan memiliki risiko tinggi untuk gangguan kecemasan saat dewasa. Namun hubungan yang spesifik belum dapat di tegakkan. Namun ada penelitian yang menyatakan bahwa orang tua yang penuh kecemasan memiliki risiko tinggi untuk memiliki anak dengan gangguan kecemasan




























BAB III
PENUTUP
Gangguan kecemasan berpisah adalah suatu keadaan yang ditandai oleh adanya kecemasan yang berlebihan, tidak realistik (tidak ada alasan yang jelas) dan menetap untuk jangka waktu yang lama, sehingga menghambat fungsi anak sehari-hari. Anak anak merasa cemas yang berlebihan dan berpikir tentang apa yang akan terjadi bila ia berpisah dengan orang-orang yang bermakna baginya.
Banyak faktor yang berperan yang dapat menyebabkan gangguan cemas perpisahan ini diantaranya faktor psikososial, faktor belajar, faktor genetik, faktor predisposisi, dan faktor presipitasi. Gangguan kecemasan masa kanak-kanak mempengaruhi hingga 10% dari anak usia sekolah. Penatalaksanaan dapat dilakukan dengan Nonfarmakologi dan farmakologi.
Keengganan atau penolakan untuk pergi ke sekolah termasuk ke dalam gangguan kecemasan berpisah karena pada gangguan school refusal ini gejala yang muncul adalah rasa khawatir, cemas dan takut  yang berlebihan yang dialami anak ketika harus pergi ke sekolah, karena ketika ia pergi ke sekolah berarti berpisah dari ibu atau jauh dari rumah. Beberapa tahap kecemasan berpisah adalah normal dan dialami hampir setiap anak-anak, khususnya pada anak yang sangat kecil.
Terapi bermain merupakan pendekatan mengurangi gangguan cemas perpisahan pada anak yang bertujuan membangun rasa aman, merubah pemikiran yang salah anak merasa menjadi orang penting, mengatur situasi dan dirinya, tidak ada kritikan dan aturan dan dapat diterima secara penuh.










DAFTAR PUSTAKA


1.      Departemen Kesehatan Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medik. 2005. Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan Gangguan Mental Emosional Anak Usia 6 Tahun Kebawah . Jakarta. Departemen Kesehatan akses di http://perpustakaan.depkes.go.id:8180/bitstream/123456789/801/4/BK2006-G77.pdf
2.      Padan WH; Rowita YM; Hastuti.2015. Art Therapy untuk mengurangi Kecemasan Pada Anak Yang Baru Memasuki Panti Asuhan. Kajian Ilmiah Psikologi No 1 Vol 2 Januari-Juni 2013, hal 50-53 akses di http://journal.unika.ac.id
3.      Ampuni Sutarimah dan Andayani Budi. 2013. (Memahami anak remaja dengan kasus mogok sekolah, penyebab, struktur kepribadian, profil keluarga dan keberhasilan penanganan. Jurnal Psikologi Volume 34, No 1, 55-75 ; ISSN : 0215-8884. Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada
4.      Semiun, Yustinus, OFM. 2006. Kesehatan Mental 2. Yogyakarta: Kanisius
5.      Shofia An (2017). Pengasuhan Pada Anak Yang Mengalami Gangguan Kecemasan Perpisahan (Separation Anxiety Disorder). Skripsi. Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Akses di http://digilib.uin-suka.ac.id
6.      Noorhana : Anxiety Disorders of Infancy, Childhood, & Adolescence. Akses di http://staff.ui.ac.id



Tidak ada komentar:

Posting Komentar