BAB
1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perilaku
kecemasan perpisahan merupakan suatu tahapan perkembangan yang normal dialami
oleh anak-anak. Pada tahapan ini anak cenderung tidak ingin berpisah dari figur
lekatnya. Menurut American Psychological
Association (APA) gangguan kecemasan perpisahan adalah gangguan
internalisasi anak. Masalah psikologis yang sering ditemui dan dialami oleh
banyak anak usia sekolah adalah kecemasan. Horney dalam Padan (2015) menyatakan
bahwa kecemasan pada anak anak itu timbul karena ketergantungannya dengan orang
dewasa yang membuat mereka bertahan.
Diagnostic
And Statistical Manual of Mental Disorder V (DSM-V) menyatakan perilaku
kecemasan perpisahan berubah menjadi sebuah gangguan ketika sudah tidak lagi
sesuai dengan usia dan tugas perkembangan. Ciri diagnostik gangguan ini adalah
kecemasan berlebihan yang terfokus bila pisah dengan figur lekatnya. Bila kita
mengamati anak-anak usia sekolah, mereka tidak mau ditinggal orang tuanya saat
diantar ke sekolah. Hal ini dianggap sesuatu yang tidak bermasalah bagi orang
tua bahkan orang lain. Mereka beranggapan bahwa itu merupakan bagian dari
pertumbuhan anak. Anak mengalami adaptasi dan menyesuaikan diri di lingkungan
dimana mereka berada.
Gangguan rasa cemas akan perpisahan dapat menganggu
dan memperlambat perkembangan sosial anak karena
ia tidak mengembangkan kemandirian atau belajar bergaul
dengan teman-teman sebayanya. Anak yang mengalami kecemasan apabila ia ditinggalkan
maka tidak dapat berfungsi dengan baik sebab tercekam oleh rasa takut terhadap apa yang terjadi
dengan dirinya atau terhadap orang-orang yang berpisah dengannya.
Gangguan cemas
perpisahan ditemukan 2 sampai 12% populasi umum dan merupakan gangguan paling
banyak pada anak dan urutan ketiga gangguan pada anak secara umum. Gangguan ini
terjadi seimbang antara laki laki dan perempuan. Keluhan dirasakan selama 4
minggu atau lebih pada anak usia kurang dari 18 tahun. Kecemasan perpisahan
memiliki dampak negatif terhadap kemampuan emosional dan sosial anak. Akibatnya
anak menghindari tempat-tempat tertentu, aktifitas dan pengalaman tertentu yang
baik untuk tahapan berikutnya (Ehrenreich, Santucci dan Winer, 2008) dalam
Shofia (2017). Kesedihan yang berlebihan menyebabkan anak akan menangis, mengadat, merana, apatis, atau
mengundurkan diri secara sosial pada saat
sebelum atau sesudah berlangsungnya perpisahan dengan tokoh yang penting atau
akrab dengannya.
Anak-anak
yang mampu berdaptasi akan lupa bahwa mereka tidak dekat dengan orang tuanya
dan dapat bergabung dengan lingkungan sekitarnya. Namun lain halnya dengan
anak-anak yang mengalami gangguan. Mereka merasa cemas dan menderita akibat
perpisahan tersebut. Anak-anak seperti ini akan terus merenung dan menampilkan rasa ketakutan untuk diri mereka sendiri
dan orang yang mereka cintai.
Penelitian
yang dilakukan oleh Ampuni S dan Andayani B (2013) mogok sekolah pada beberapa
kasus anak sekolah merupakan manifestasi dari gangguan cemas berpisah yaitu
gangguan kecemasan berpisah dari figur lekat. Banyak faktornya seperti
pengalaman traumatik, kecemasan bertemu dengan teman-temannya setelah ia
membuat ulah, menarik diri (withdrawal) dari masalah, yang menunjukkan kurang
berkembangnya tanggungjawab pribadi dan daya juang.
Menurut
Gelfand dan Drew dalam Ampuni dan Handayani (2013) menyatakan gangguan
kecemasan dapat berasosiasi dengan school
fobia dan gangguan perilaku agresif berasosiasi dengan truancy secara bersamaan.
Hasil
penelitian Shofia (2017) pengasuhan anak yang cenderung tidak konsisten dan
berbeda antara ayah dan ibu mengakibatkan kecenderungan anak mengalami
kecemasan berpisah dari figur lekatnya.
Gangguan
kecemasan perpisahan terjadi sebelum usia 18 tahun. Gangguan dapat menyebabkan
penderitaan bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, akademik/
belajar atau fungsi penting lain. Peran orang tua atau orang yang dianggap
penting sangat mempengaruhi perkembangan anak. Memberikan nasihat dan
penjelasan yang tepat pada anak dapat membuat anak mampu mengatasi gangguan
kecemasan itu sebaliknya bila kita mengabaikannya akan berdampak pada
perkembangan anak pada masa yang akan datang.
1.2 Tujuan
1.2.1
Mampu mengetahui pengertian gangguan kecemasan
perpisahan
1.2.2
Mampu mengetahui penyebab, gejala klinis
penatalaksanaan dan prognosis gangguan kecemasan perpisahan
BAB
II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Gangguan Cemas Perpisahan
Gangguan cemas perpisahan ditandai dengan rasa cemas
berlebihan bila anak terpisah dari orang yang dekat dan sangat berarti baginya.
Gangguan ini umumnya terjadi pada usia 4 tahun atau sebelum usia 18 tahun.
Gangguan ini dapat menyebabkan kekhawatiran yang berlebihan akan kehilangan
orang yang sangat bermakna bagi dirinya.
Gangguan kecemasan pada masa kanak-kanak meliputi
gangguan rasa cemas akan perpisahan (separation
anxiety disorder), gangguan untuk menghindar dan gangguan kecemasan yang
berlebihan. Gangguan kecemasan perpisahan menimbulkan ketakutan berpusat pada
apa yang mungkin terjadi dengan individu yang berpisah dengan anak itu.
Gangguan kecemasan akan perpisahan dapat mengganggu dan memperlambat
perkembangan sosial anak karena ia tidak menembangkan indepndensi. Apabila dia
ditinggalkan maka anak tidak dapat berfungsi dengan baik karena tercekam rasa
takut terhadap apa yang akan terjadi pada dirinya atau orang-orang yang
berpisah dengannya. Gangguan menghindar dengan simtom utama enggan berhubungan dengan
orang-orang yang tidak dikenal yang mengganggu fungsi sosial anak itu dengan
kawan-kawan sebayanya. Sehingga anak cenderung menarik diri, malu, takut sulit
berbicara. Gangguan kecemasan berlebihan merupakan kecemasan yang terus menerus
dan berlangsung lama (lebih kurang 6 bulan). Kecemasan ini menyebabkan
simtom-simton somatik yang dasar fisiknya tidak dapat ditemukan dan tidak mampu
berpikir rileks.
Gangguan
kecemasan berpisah adalah bentuk kecemasan berlebihan yang dialami anak ketika
berpisah dari orang-orang yang dekat dengannya (major attachment figure),
misalnya ibu, atau ketika jauh dari rumah. Beberapa jenis gangguan kecemasan masa
kanak-kanak mampu mempengaruhi
hingga 10% dari anak usia sekolah.
Penolakan bersekolah merupakan masalah emosional yang
serius sehingga dapat menimbulkan akibat jangka pendek dan jangka panjang.
Penolakan bersekolah dapat ditemui mulai dari taman kanak-kanak sampai
perguruan tinggi. Sebesar 43% penolakan bersekolah berlatar belakang gangguan
cemas. Keengganan
atau penolakan untuk pergi ke sekolah termasuk ke dalam gangguan kecemasan
berpisah. Gangguan
school refusal (mogok sekolah),
gejala
yang muncul adalah rasa khawatir, cemas dan takut yang berlebihan yang
dialami anak ketika harus pergi ke sekolah, karena ketika ia pergi ke sekolah
berarti berpisah dari ibu atau jauh dari rumah.
Orang tua yang mempunyai gangguan panik memiliki risiko
tinggi untuk mempunyai anak dengan gangguan cemas perpisahan. Hal ini dapat
bersumber dari patologis antara anak dan orang tua. Menurut Mahler, proses
perpisahan individu dimulai usia 4 – 5 bulan dan sempurna usia 3 tahun. Pada
cemas perpisahan fase tersebut tidak terselesaikan, orang tua mempunyai
kebutuhan yang kuat untuk mempertahankan kasih sayang yang menghambat
perkembangan normal dari sikap ketergantungan anak. Sehingga pada usia sekolah
kondisi patologis ini tetap dipertahankan dan timbul penolakan bersekolah
karena takut akan perpisahan.
Beberapa
tahap kecemasan berpisah adalah normal dan dialami hampir setiap anak-anak, khususnya
pada anak yang sangat kecil. Sebaliknya, gangguan kecemasan berpisah adalah
kegelisahan berlebihan yang melebihi apa yang diharapkan untuk tingkat
perkembangan anak. Kecemasan berpisah dipertimbangkan sebagai gangguan jika
berlangsung setidaknya sebulan dan menyebabkan gangguan yang sangat berarti
atau merusak fungsi. Durasi pada gangguan tersebut menggambarkan keparahannya. Gangguan kecemasan akan perpisahan (separation
anxiety disorder) didiagnosis jika kecemasan akan
perpisahan tersebut persisten dan berlebihan atau tidak sesuai dengan tingkat
perkembangan anak.
Gangguan cemas perpisahan adalah gangguan kecemasan pada
anak anak dan remaja yang dikelompokkan oleh DSM-IV. Ada tiga gejala yang
berhubungan dengan kecemasan tentang perpisahan dari tokoh perlekatan utama.
Ketakutan dalam bentuk menolak sekolah, ketakutan dan ketegangan akan
perpisahan serta keluhan berulang berupa gejala fisik seperti sakit kepala,
pusing bahkan diare.
Menurut Barlow & Beck (dalam Weems
& Carrion, 2003) menjelaskan bahwa kecemasan pada anak umumnya terjadi
karena peran proses belajar, pemikiran, dan aspek fisiologis dari gangguan
kecemasan. Tidak semua anak
mengalami gangguan kecemasan pemisahan. Namun bila anak lebih dari lima
tahun dan masih memiliki gangguan
kecemasan
pemisahan, mungkin perlu mengkonsultasikannya kepada seorang psikolog atau
konselor.
Menurut APA (2000), sekitar 4 % terjadi pada anak- anak dan 1 % remaja. Gangguan ini dapat
berlangsung sampai masa dewasa, menyebabkan perhatian yang berlebihan pada
keselamatan anak- anak dan pasangan serta kesulitan menoleransi perpisahan apa
pun dari mereka.
2.2 Etiologi
Gangguan cemas
perpisahan dapat terjadi pada usia 4 tahun atau jelang usia 18 tahun. Gangguan
sering terjadi pada anak kecil dibandingkan remaja, kejadiannya seimbang antara
anak laki laki dan perempuan. Gangguan sering ditemukan pada usia 7 sampai 8
tahun. Banyak faktor yang berperan yang dapat menyebabkan gangguan cemas
perpisahan ini diantaranya faktor psikososial, faktor belajar, faktor genetik,
faktor predisposisi, dan faktor presipitasi.
Faktor Psikososial
Psikososial adalah
faktor yang menggambarkan hbungan antara kondisi sosial seseorang dengan
kesehatan mental atau emosionalnya. Menurut Erikson, elemen penting dari teori
tingkatan psikososial adalah perkembangan persamaan ego yaitu perasaan sadar
yang dikembangkan melalui interaksi sosial. Anak kecil tergantung pada tokoh
ibu, rentan terhadap kecemasan yang berhubungan dengan perpisahan. Gangguan
cemas perpisahan terjadi jika anak memiliki ketakutan yang tidak sesuai akan
kehilangan ibu.
Faktor Belajar
Kecemasan fobik
dapat dikomunikasikan dari orang tua langsung kepada anak anak melalui
modelling. Jika orang tua penuh ketakutan,, anak kemungkinan memiliki adaptasi
fobik terhadap situasi baru, terutama lingkungan sekolah.
Faktor genetik
Cemas perpisahan
yang dialami seseorang kemungkinan ada pengaruh genetik. Orang tua dengan
gangguan panik mempunyai risiko tinggi untuk memiliki anak dengan gangguan
cemas perpisahan.
Faktor Predisposisi
Gangguan dapat terjadi karena anak medapatkan
perhatian lebih dan kenyaman dari
orang tua. Sehingga saat anak harus menunjukkan eksistensi
dirinya di lingkungan, ia menjadi merasa tidak nyaman. Apalagi harus ditinggal
oleh orang tua. Peran pola asuh orangtua
memegang kontribusi yang luar biasa besar. Biasanya, anak dengan gangguan
kecemasan berpisah dibesarkan oleh orangtua dengan gangguan kecemasan yang
sama. Orangtua yang terlalu melindungi anaknya, overprotektif, atau keluarga
dengan budaya yang terlalu akrab biasanya rentan pada pengasuhan anak yang
dapat menimbulkan gangguan kecemasan berpisah pada anak-anak, contoh pada anak tunggal,
anak bungsu, anak laki-laki atau perempuan satu satunya di keluarga, anak
pertama meninggal sehingga anak ke dua jadi harapan keluarga, serta anak yang
susah diperoleh (misal bayi tabung).
Faktor Presipitasi
Gangguan
kecemasan disebabkan hal baru yang sebelumnya anak tidak pernah alami.
Akibatnya anak akan mengalami gangguan yang hebat ketika dipisahkan dari orang
tua atau orang yang mereka sayangi.
2.3 Manifestasi
Klinis
Gangguan cemas perpisahan akan mengalami gangguan yang
sangat hebat ketika dia dipisahkan dari orang yang mereka sayangi. Bepergian
sendiri membuat mereka tidak nyaman, dan mereka bisa menolak untuk datang ke
sekolah atau kemah atau untuk mengunjungi rumah teman. Beberapa anak tidak bisa
tinggal sendirian di dalam sebuah ruangan, melekat pada orang tua atau
membuntuti orangtua di sekitar rumah.
Tanda-tanda anak yang mengalami gangguan kecemasan adalah
secara
fisik berkeringat, mempercepat denyut jantung atau palpitasi, hiper-ventilasi,
dan sejumlah gejala lain. Bisa
berakibat pula pada prestasi belajarnya atau interaksi dengan lingkungan
sekitarnya. Anak
yang susah berpisah dengan pengasuh, anak takut atau enggan ke sekolah, atau
anak yang tidak mau keluar rumah. Anak- anak akan cenderung mengikuti kemana orang tua
pergi. Ciri lainnya adalah gangguan mimpi buruk, sakit perut, mual ketika
mengantisipasi perpisahan. Ciri penting gangguan cemas perpisahan adalah
kecemasan yang ekstrim sehingga anak dapat panik. Ketakutan, preokupasi dan
ruminasi morbid adalah karateristik gangguan cemas perpisahan. Ketakutan tidak
akan bertemu orang tuanya kembali misalnya mengalami kecelakaan, kehilangan
atau diculik.
Kesulitan tidur sering
ditemukan dan mungkin mengharuskan seseorang menemani anak anak sampai
tertidur. Anak anak sering pergi ke tempat tidur orang tua atau bahkan tidur di
pintu orang tua. Ketakutan dan mimpi buruk adalah ekspresi lain dari kecemasan.
2.4
Kriteria Diagnostik
Kecemasan yang berlebihan dan tidak sesuai menurut usia
perkembangan karena berpisah dengan orang terdekat. Hal ini dapat berlangsung
dalam waktu 4 minggu, onsetnya adalah 18 tahun. Adapun gejala-gejala gangguan
ditandai sekurang kurangnya tiga dari empat gejala berikut :
·
Penderitaan
(distress) yang berulang dalam menghadapi perpisahan dengan figur perlekatan
utama (orang yang bermakna baginya)
·
Ketakutan
yang menetap dan berlebihan dalam menghadapi kehilangan atau membayangkan
kemungkinan bahaya yang dialami oleh figur perlekatan utama (kecelakaan,
kematian).
·
Kekhawatiran
yang menetap dan berlebihan terhadap kejadian yang tidak diharapkan, misalnya
hilang atau di culik
·
Enggan
pergi sekolah atau tempat lain karena takut berpisah dengan figur perlekatan
utama
·
Enggan
menetap di rumah sendirian, tidak ditemani oleh figur perlekatan
·
Enggan
atau menolak tidur sendiri, apalagi jauh dari figur perlekatan utama
·
Sering
mimpi buruk dengan tema perpisahan
·
Keluhan
fisik seperti pusing, sakit kepala, sakit perut, mual
Diagnosis banding gangguan ini pada beberapa tingkat
merupakan fenomena normal yang terjadi pada anak. Anak yang menolak sekolah
perlu dilakukan evaluasi apakah takut perpisahan disebabkan kekhawatiran
terhadap penampilan atau ketakukan akan dipermalukan di depan guru dan
teman-teman.
2.5 Penatalaksanaan
1)
Non
Farmakoterapi, penanganan awal melalui pendekatan berbagai bentuk terapi, misal
psikoterapi individu dan terapi keluarga. Keluarga membantu orang tua mengerti
kebutuhan cinta yang konsisten dan suportif dan mempersiapkan tiap perubahan
penting dalam kehidupan.
2)
Farmakoterapi,
merupakan terapi tambahan untuk mengontrol gejala. Adapun obat yang diberikan
adalah golongan Selective Serotonim
Reuptake Inhibitor (SSRI) seperti fluoxetine, setraline, paroxine, dan
citalopram. Untuk mengatasi tidur pada anak diberikan diphenhidramin.
Bila ini masih terus berlanjut dan sudah ada penolakan
bersekolah maka sebaiknya di rujuk ke psikiater. Penolakan sekolah berhubungan
dengan gangguan cemas perpisahan dan dapat dipandang sebagai kegawatdaruratan
psikiatrik. Terapi menyeluruh hendaknyamelibatkan anak, orang tua, teman sebaya
dan sekolah. Anak di dorong untuk masuk sekolah. Bila anak menghadapi kendala
maka disusun suatu program secara progresif meningkatkan waktunya di sekolah.
Penelitian yang dilakukan oleh Padan (2013) dan kawan
kawan, art terapi merupakan salah satu bentuk terapi yang dapat digunakan pada
gangguan cemas perpisahan anak sekolah di panti asuhan. Namun hasilnya art
teraphy kurang mampu menurunkan kecemasan secara umum, tidak ada perbedaan yang
signifikan antara total skor kecemasan sebelum diberi art terapi dan sesudah di
beri art terapi. Sehingga di sarankan art terapi sebagai treatmen untuk
kecemasan lebih spesifik menyentuh salah satu sumber kecemasan tertentu yang
diukur dalam beberapa subskala kecemasan.
Bermain adalah media alami untuk ekspresikan diri anak.
Permainan yang dapat dilakukan bersama anak menjadi sebuah terapi. Dengan
terapi bermain anak memiliki kesempatan untuk memainkan perasaan dan
permasalahannya, anak merasa menjadi orang penting, mengatur situasi dan
dirinya, tidak ada kritikan dan aturan dan dapat diterima secara penuh. Bentuk
pendekatan yang dapat dilakukan dengan terapi bermain antara lain :
1.
Membangun
rasa aman, anak yang mengalami kecemasan disebabkan bereaksi dengan dunia baru
hal yang dibutuhkan adalah rasa aman. Sehingga mencptakan rasa aman pada diri
anak dapat mengurangi kecemasan. Misal menungguinya di sekolah beberapa saat.
2.
Mengubah
pemikiran yang salah. Anak yang mengalami gangguan cemas perpisahan mempunyai
pemikiran yang salah tentang dunia barunya. Pemikiran anak perlu diubah dengan
cara memperlihatkan fakta yang sebaliknya.
3.
Mengajak
anak bermain bersama. Mengajak anak bermain bersama dengan menjadikannya aktor
utama dan banyak memainkan peran. Anak dapat mengekspresikan diri sehingga
dapat digunakan untuk menggali penyebab kecemsan pada anak.
Efektifitas terapi dapat terlaksana bila dilakukan dan di
dukung oleh lingkungan sekolah seperti teman teman sekelas, agar perasaan
positif terhadap sekolah dapat terbentuk. Beberapa cara yang dapat dilakukan
orang tua untuk mengurangi rasa cemas perpisahan adalah :
a.
Membuat
perpisahan singkat dan manis
b.
Menciptakan
ritual perpisahan, dengan memeluk 3 kali dan mencium 5 kali
c.
Berikan
pesan yang jelas bahwa anak harus tahu meskipun menangis, berteriak, hentakkan
kaki tetapi dia harus tetap masuk sekolah.
d.
Jangan
membawa anak pulang jika anak menangis saat perpisahan
e.
Mengundang
anak lain ke rumah sehingga terjalin persahabatan
f.
Jangan
tunjukkan sikap sedih saat berpisah. Hal ini membantu anak merasa nyaman dan
menikmati wakyu di sekolah
g.
Mengantar
dan menjemput anak dengan tokoh yang berbeda
2.6
Prognosis
Prognosis gangguan cemas perpisahan adalah meramalkan
kemungkinan atau akhir dari suatu gangguan cemas perpisahan, baik dengan
pengobatan atau tanpa pengobatan. Prognosis gangguan cemas perpisahan
bervariasi tergantung kepada onset usia, lama gejala dan perkembangan gangguan
kecemasan dan defresif komorbid. Biasanya anak anak lebih singkat mengalami
gangguan dan mampu bertahan hadir disekolah dibanding remaja. Anak yang tetap
sekolah dan mempunyai aktifitas sosial biasanya mempunyai prognosis lebih baik.
Ada penelitian yang menyatakan bahwa beberapa anak dengan
fobia sekolah yang parah terus menolak sekolah selama bertahun tahun. Ada
asumsi bahwa anak dengan gangguan kecemasan memiliki risiko tinggi untuk
gangguan kecemasan saat dewasa. Namun hubungan yang spesifik belum dapat di
tegakkan. Namun ada penelitian yang menyatakan bahwa orang tua yang penuh
kecemasan memiliki risiko tinggi untuk memiliki anak dengan gangguan kecemasan
BAB III
PENUTUP
Gangguan kecemasan berpisah adalah suatu keadaan yang ditandai oleh adanya kecemasan yang
berlebihan, tidak realistik (tidak ada alasan yang jelas) dan menetap untuk
jangka waktu yang lama, sehingga menghambat fungsi anak sehari-hari. Anak anak
merasa cemas yang berlebihan dan berpikir tentang
apa yang akan terjadi bila ia berpisah dengan orang-orang yang bermakna baginya.
Banyak faktor yang berperan yang dapat menyebabkan
gangguan cemas perpisahan ini diantaranya faktor psikososial, faktor belajar,
faktor genetik, faktor predisposisi, dan faktor presipitasi. Gangguan
kecemasan masa kanak-kanak mempengaruhi hingga 10% dari anak usia sekolah. Penatalaksanaan dapat dilakukan dengan
Nonfarmakologi dan farmakologi.
Keengganan
atau penolakan untuk pergi ke sekolah termasuk ke dalam gangguan kecemasan
berpisah karena pada gangguan school refusal ini gejala yang muncul
adalah rasa khawatir, cemas dan takut yang berlebihan yang dialami anak
ketika harus pergi ke sekolah, karena ketika ia pergi ke sekolah berarti
berpisah dari ibu atau jauh dari rumah. Beberapa tahap kecemasan berpisah
adalah normal dan dialami hampir setiap anak-anak, khususnya pada anak yang
sangat kecil.
Terapi bermain merupakan pendekatan mengurangi gangguan
cemas perpisahan pada anak yang bertujuan membangun rasa aman, merubah pemikiran yang salah anak merasa menjadi orang penting, mengatur situasi dan
dirinya, tidak ada kritikan dan aturan dan dapat diterima secara penuh.
DAFTAR PUSTAKA
1.
Departemen
Kesehatan Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medik. 2005. Pedoman Diagnosis dan
Penatalaksanaan Gangguan Mental Emosional Anak Usia 6 Tahun Kebawah . Jakarta.
Departemen Kesehatan akses di http://perpustakaan.depkes.go.id:8180/bitstream/123456789/801/4/BK2006-G77.pdf
2. Padan
WH; Rowita YM; Hastuti.2015. Art Therapy untuk mengurangi Kecemasan Pada Anak
Yang Baru Memasuki Panti Asuhan. Kajian Ilmiah Psikologi No 1 Vol 2
Januari-Juni 2013, hal 50-53 akses di http://journal.unika.ac.id
3. Ampuni
Sutarimah dan Andayani Budi. 2013. (Memahami anak remaja dengan kasus mogok
sekolah, penyebab, struktur kepribadian, profil keluarga dan keberhasilan
penanganan. Jurnal Psikologi Volume 34, No 1, 55-75 ; ISSN : 0215-8884.
Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada
4.
Semiun, Yustinus, OFM. 2006. Kesehatan
Mental 2. Yogyakarta: Kanisius
5.
Shofia
An (2017). Pengasuhan Pada Anak Yang Mengalami Gangguan Kecemasan Perpisahan
(Separation Anxiety Disorder). Skripsi. Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Akses di http://digilib.uin-suka.ac.id
6.
Noorhana
: Anxiety Disorders of Infancy, Childhood, & Adolescence. Akses di http://staff.ui.ac.id
Tidak ada komentar:
Posting Komentar